Bagi Saya Linux adalah sebuah kotak misteri yang sangat menarik untuk senantiasa dibuka, dilihat isinya, diambil manfaatnya dan sumber inspirasi impian besar saya.
Sebenarnya saya mendengar sebuah terminology “Linux” itu sekitar tahun 1995-an. Saat itu selain Linux merupakan salah satu materi yang diajarkan dalam salah satu matakuliah, Linux juga diimplementasikan pada beberapa server di laboratorium komputer di kampus Saya. Saat itu yang mengintall Linux adalah kepala laboratorium komputer dan salah satu asistennya yang tertarik dengan Linux. Kalau tidak salah distro Linux yang digunakan pada saat itu adalah distro Slackware entah versi berapa. Terus terang pada saat itu Linux bagi saya masih belum menjadi prioritas utama dalam benak Saya. Pada saat itu saya justru masih mefokuskan pada salah satu bahasa program dan pemodelan system informasi dan memang jurusan yang saya pilih pada saat kuliah adalah Sistem Informasi. Jadi Linux saat itu cuma sekeda dilihat-lihat saja dengan perintah ls atau paling jauh mencoba browsing internet dengan lynx yang memang bagi lynx merupakan barang yang sangat aneh karena bisa manampilan internet dalam modus teks.
Eksperimen Linux.
Saya mulai benar-benar terarik dengan Linux dan ingin menginstalnya pada pertengahan 2003 karena selain hasil mengikuti salah satu seminar pengenalan Linux dan internet saya ada sisi-sisa lain yang membuat saya bersemangat untuk membuka, melihat dan mengambil manfaat dari “kotak misteri” yang satu ini antara lain bahwa Linux adalah system operasi alternative, Linux memancing orang menjadi lebih pintar tidak hanya dengan tentang Linuxnya saja tetapi hal-hal lain yang bekenaan dengannya seperti jaringan dan internet bak bola salju yang menggelinding, dan yang lebih penting dan sangat berarti adalah menggunakan sistem operasi ini tidak membajak, tanpa was-was, halal dan pengembangannya sesuai “Syariah”. Dan kebanyakan dari eksperimen saya dengan Linux, CD-CD Linux yang saya gunakan saya dapati dari majalah INFOLINUX atau saya unduh sendiri dari internet. Dan distro yang saya install pertama kali adalah Redhat 9.
Pada saat saya menjabat sebagai kepala laboratorium komputer di salah satu Sekolah Tinggi Ekonomi Islam di kota Bogor, saya menjadikan Linux sebagai server proxy untuk berbagi internet dan Primary Domain Controller (PDC) untuk login masing-masing mahasiswa. Sementara pada workstation masih menggunakan WindowsXp Bajakan. Pada saat itu Linux yang saya gunakan adalah Fedora Core 4 dan tentunya melalui tahapan-tahapan pembelajaran, gonta-ganti distro Linux dan kontemplasi yang panjang untuk mewujudkan ke-2 fungsi server ini. Dan memang pada saat itu kemudahan, dokumentasi dan dukungan komunitas berpihak pada distro Fedora. Untuk Proxy Server saya gunakan Squid, untuk webfilter Saya gunakan Dansguardian, Untuk PDC Saya gunakan Samba. Karena pekerjaan atas jabatannya lebih luas disbanding sekedar mempelajari Linux, maka yang saya lakukan adalah saya harus begadang di laboratorium komputer itu untuk mempelajari Linux. Dan mulai saat itu Saya sudah mendapat gelar DokTor alias mondok di kantor karena tempatnya merupakan pondok pesantren, suasana malam yang tenang tidak ada yang mengganggu juga koneksi internet juga cepat karena hanya Saya sendiri yang menggunakan. Mimpi yang belum kesampaian pada saat itu memigrasi komputer-komputer workstation ke Linux. Mudah-mudahan mimpi itu bisa diwujudkan oleh pengganti Saya.
Pada saat saya mejabat sebagai IT Manager pada Primer Koperasi Angkatan Udara Markas Besar TNI AU Cilangkap (Primkopau Mabesau) www.koperasiau.com. Koperasi ini adalah salah satu kopersi dengan asset yang sangat besar dan unit bisnis yang sangat banyak serta mempunyai kantor cabang yang banyak pula. Beberapa unit bisnis yang besar antara lain adalah unit simpan/pinjam dan Unit Mini Market. Saat ini saya menggunakan Linux penuh dengan warna-warni dan cita rasa. Untuk Proxy Server saya gunakan Distro Fedora 6, Untuk PDC saya gunakan Distro OpenSuSE 10.3 dan di laptop Saya gunakan gonta-ganti distro. Mengapa demikian ? Disamping secara pribadi Saya senang mencoba-coba distro Linux, juga karena perbedaan pada masing-masing fungsinya dan kemudahan setting konfigurasinya. Alasan lain adalah karena lagi-lagi tanggung jawab amanat atas jabatan yang diberikan masih lebih besar dari pada sekedar mengeksplorasi Linux. Yang jelas masih perlu “mondok” di kantor lagi
Pada Proxy Server saya gunakan Fedora 6 karena perfoma stabil, cukup “secure” tidak membutuhkan spesifikasi hardware mahal serta menudahan settingnnya terutama dalam hal routing. Pada PDC Saya gunakan distro OpenSuSE 10.3 karena disamping tampilannya yang cantik ia juga mudah dalam pengkonfigurasikan PDC dengan Samba menggunakan YaST-nya dan nampaknya distro yang satu ini memang sudah sangat siap digunakan sebagai File Server atau PDC serta distro ini nampaknya benar-benar membawa kultur perusahaan sponsornya yakni Novell yang terkenal memproduksi Novell Netware yang sangat tangguh sebagai file server. Laptop saya gunakan sebagai media bereksperimen terhadap distro-distro Linux. Seingat saya distro-distro yang pernah diinstall di laptop Saya antara lain Mandriva, Ubuntu, Kubuntu, Blankon, Fedora, PCLinuxOS, Centos Linux, dan OpenSuSE. Dari sekian distro yang sangat berkesan adalah PCLinuxOS karena sangat mudah dalam instalasinya dan hampir semua kebutuhan seperti driver wi/fi dan akses data pada partisi ntfs sudah terkonfigurasi otomatis.
Mimpi-mimpi.
Impian selanjutnya adalah memigrasi komputer-komputer workstation yang saat ini masih menggunakan WindowsXp karena ketergantungan penggunaan sistem operasi buatan Bill Gates ini masih sangat tinggi. Beberapa calon distro yang bakal menggantikan dan masih dipertimbangkan antar lain PCLinuxOs, Mandriva, Damm Small Linux, dan Blankon. Untuk unit simpan-pinjam saya optimis karena teknologi bakal calon software sistem simpan-pinjamnya berbasis Java dan akan online-realtime bisa diakses pada semua kantor cabang yang pada masing-masing komputer workstationnya hanya membutuhkan web browser, koneksi internet dan passbook printer saja. Yang masih sulit diwujudkan adalah memigrasi komputer workstation untuk unit mini market karena software sistem ini masih berbasis windows dan nampaknya memang masih jarang pengembang aplikasi jenis ini yang berbasis Linux atau open source software (OSS).
Salah satu impian besar lain adalah mewujudkan Primkopau Mabesau menjadi koperasi contoh untuk koperasi-koperasi lain atau UKM-UKM lain dalam berbasis Linux dan open source software. Saat ini masih sebagian besar koperasi atau UKM masih menggunakan sistem operasi dan software-software pendukung lainnya dengan membajak tanpa rasa malu dan berdosa karena mereka memang belum tahu atau menyadari bahwa yang mereka lakukan adalah membajak, tatapi di sisi lain kita belum menyiapkan solusi alternatifnya. Saat ini memang sudah waktunya untuk menyiapkan perubahan ke arah berbasis Linux dan OSS, mulai dari sektor pendidikan hingga pengembang professional.
Saya juga pernah “bermimpi” lembaga-lembaga keuangan mikro seperti Bank Perkreditan Syariah (BPRS), Baitulmaal Wat Tamwil (BMT), Koperasi Syariah dan pondok-pondok pesantren menggunakan Linux dan OSS sebagai basis aplikasi dan basis pendidikannya. Ini adalah sebuah keadaan yang sangat ideal tentunya. Ideal dari sisi teknologi maupun legalitasnya.
Impian besar lainnya adalah mendirikan pondok pesantren yang menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) siap menyongsong pengembangan Linux dan OSS. Mengapa pondok pesantren ? Disamping mengusung semangat ke-“Syariahannya”, halal dalam penggunaan teknologinya alias tidak membajak dan kebutuhan SDM berbasis ini menjanjikan masa depan yang cerah baik bagi individu santrinya yang pintar, berkhlak sholeh berwawasan teknologi masa depan maupun bagi perkembangan teknologinya. Sehingga kita mengurangi ketergantungan terhadap bangsa lain terutama bangsa yang mencengkram bangsa kita, juga bangsa kita terbebas dari julukan bangsa yang diawasi oleh World Trade Organization (WTO) karena sebagai bangsa pembajak. Saya sangat berkeyakinan –walaupun Saya belum pernah mengenyam pendidikan di pesantren, hanya berdasarkan pengamatan terhadap mahasiswa-mahasiswa saya yang berasal dari pesantren, mereka mempunyai keunggulan dan semagat yang tinggi- bahwa dengan pendidikan yang berpihak pada basis ini diterapkan dalam pola pondok pesantren di masa depan kita tidak lagi kekurangan SDM yang mampu membangkitkan bangsa ini kearah yang lebih baik terutama dalam bidang teknologi komunikasi dan informasi. Saya juga meyakini banyak rekan pengguna Linux dan OSS juga mempunyai mimpi yang sama. Mudah-mudahan dengan dibacanya testimoni ini ada mau bekerja sama mewujudnya mimpi-mimpi indah ini.
Masih banyak lagi misteri-misteri yang harus saya pelajari saat ini saya masih lebih banyak fokus mempelajari Samba karena ia merupakan kebutuhan mendesak saat ini. Beberapa hal yang masih membuat saya penasaran antara lain tentang konsep dan konfigurasi Domain Name System, Firewall, Routing, Kernel dan Remastering Distro Linux. Oleh karena itu saya juga gemar mengunduh file-file ebook dari internet yang berkenaan dengan Linux, Networking dan Programming. Semoga saya selalu diberi kesehatan dan banyak waktu lagi untuk mempelajari Linux dan OSS serta menjadi amal sholeh dan bekal di akhirat kelak. Amin.
Warna-warni Linux-ku, warna-warni mimpiku.

